Skripsi sebagai salah satu bentuk manifestasi dari keberhasilan meraih belajar hingga akhir waktu, ternyata membuatnya nggak segampang kita menuliskan bait-bait rindu. Manakala kita tuangkan sebongkah ide langsung tersusun, sungguhpun tlah kuberusaha ternyata sebuah impian itu pupus dalam paruh jalannya. Hingga sang waktu memaksaku untuk menuntaskannya dalam jangka relatif pendek.
Paruh waktu? sungguhpun engkau tlah gapai dengan tangan-tangan kecilmu dan keringatmu sendiri namun ternyata sang karsa berkehendak lain. Waktu yang sedemikian lama, betul menurutku juga lama. coba yang mustine 4 bulan ternyata 4 tahun sudah kulampaui tanpa hasil yang bermakna, hanya keping-keping karsa yang terpendam. Laksana gejolak nurani menghantam batin ini hingga kini trasa penuhi kalbu sesakkan napasku halangi hasrat kebermaknaan kebersamaan kita. Sayang... sungguh sayang... Namun kalo bubur sudah jadi nasi.. eh nasi menjadi bubur, apakah daya yang mampu kulakukan.. pasrah... pada nasib!?!
Paruh waktu? sungguhpun engkau tlah gapai dengan tangan-tangan kecilmu dan keringatmu sendiri namun ternyata sang karsa berkehendak lain. Waktu yang sedemikian lama, betul menurutku juga lama. coba yang mustine 4 bulan ternyata 4 tahun sudah kulampaui tanpa hasil yang bermakna, hanya keping-keping karsa yang terpendam. Laksana gejolak nurani menghantam batin ini hingga kini trasa penuhi kalbu sesakkan napasku halangi hasrat kebermaknaan kebersamaan kita. Sayang... sungguh sayang... Namun kalo bubur sudah jadi nasi.. eh nasi menjadi bubur, apakah daya yang mampu kulakukan.. pasrah... pada nasib!?!